Profil & Sejarah Pelayanan Jalan Suci
Visi & Landasan Utama
Jalan Suci (The Holy Way) adalah sebuah gerakan pelayanan dan persekutuan yang dipanggil untuk beribadah di dalam Ruang Mahakudus serta mengalirkan pelayanan yang penuh kuasa di dalam Roh Kudus. Berdasarkan Yesaya 35:8, "Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus", Jalan Suci melatih umat Tuhan untuk hidup mengelilingi Kristus, membangun kebersamaan, menyembah dalam Roh, mempraktikkan karunia-karunia Roh Kudus, dan merespons panggilan penginjilan untuk menyambut kedatangan Tuhan.
Sejarah Singkat Perkembangan
- 1964 – 1965: Awal Mula Pelayanan Kelompok pendukung pertama kali didirikan pada tahun 1964. Sejarah gerakan Jalan Suci di Indonesia secara resmi dimulai pada Februari 1965 ketika Rev. Edwin B. Stube bersama keluarganya tiba di Semarang, Jawa Tengah. Beliau membawa kerinduan dan visi untuk pelayanan penginjilan, ibadah, pelatihan, serta pembaharuan melalui kuasa Roh Kudus.
- 1966: Pencurahan Roh Kudus di Nongkojajar Pada bulan Juni 1966, Rev. Edwin Stube beserta keluarga berpindah ke Nongkojajar, sebuah desa kecil di pegunungan Jawa Timur. Di tempat inilah terjadi pencurahan Roh Kudus yang luar biasa di antara anak-anak muda. Para pemuda ini kemudian diutus melintasi berbagai pulau (dimulai dari Sulawesi) untuk memberitakan Injil dengan menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup dan pelayanan mereka.
- 1968: Penerbitan Majalah "Api Menyala" Gerakan literasi dan pengajaran Jalan Suci dimulai pada tahun 1968 lewat penerbitan majalah "Api Menyala". Majalah ini berkembang hingga menjangkau sirkulasi lebih dari 7.000 eksemplar ke berbagai daerah dan pulau terpencil di seluruh Indonesia untuk mendewasakan iman umat Tuhan.
- 1971: Pendirian Bible Training Center Pertama di Lawang Melalui peneguhan visi dan nubuatan sejak tahun 1968, Bible Training Centre (Pusat Pelatihan Alkitab) Jalan Suci pertama kali didirikan di Lawang, Jawa Timur, pada tahun 1971. Pusat pelatihan ini menggunakan pendekatan pemuridan non-formal radikal sebagaimana Yesus melatih murid-murid-Nya—yaitu melalui kebersamaan, persekutuan, studi Alkitab, dan praktik penginjilan langsung.
- 1976 – Sekarang: Generasi Penerus & Pelayanan Nasional Pada tahun 1976, Rev. Edwin Stube secara resmi menyerahkan kepemimpinan dan keberlanjutan pelayanan "Jalan Suci" ke tangan anak-anak muda Indonesia yang telah dilatih. Hingga kini, berbagai Pusat Pelatihan (Training Centers) dan Pusat Penyembahan/Gereja Lokal (GPI Jalan Suci) terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia (termasuk Jawa, Bali, Papua, Sulawesi, dan Kalimantan) hingga ke luar negeri.
Prinsip & Nilai Pelatihan (Training) Jalan Suci
Pelatihan dalam Jalan Suci mengikuti pola pemuridan Perjanjian Baru yang ditekankan pada 4 prinsip utama: